Rabu, 30 September 2009

Resume Buku Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam



RESUME

ILMU PENDIDIKAN ISLAM (IPI)



Judul buku : Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam

Pengarang : Dr. Samsul Nizar, M.A.

Tebal halaman : 231

Penerbit : Gaya Media Pratama

Tahun Penerbit : 2001



BAB I

MELACAK AKAR PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM : SEBUAH PENGANTAR

A. Dasar Pemikiran

Manusia merupakan makhluk allah swt. yang sempurna sesuai dengan tugas fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah filard dan terbaik bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. kelebihan manusia bukan hanya sekedar berbeda susunan fisik, tapi juga lebih jauh adalah kelebihan aspek psikisnya dengan totalitas potensinya masing-masing yang sangat mendukung bagi proses aktualitas diri pada posisinya sebagai makhluk mulia. integritas kedua unsur tersebut abersifat aktif dan dinamis sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman di mana manusia berada. dengan potensinya material dan spiritual tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan allah swt. yang terbaik.secara sistematis pada proposisinya penge tahuan yang mencerminkan pengembangan totalitas kepribadian manusia secara utuh. untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik maka, pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik pada pengembangan diri secara totalitas. islam dengan ajaran yang universal tidak menghendaki adanya sistem pendidikan yang dikotomik parsial dalam menempatklan peserta didik baik teoritis maupun praktis peserta didik manawarkan sistem pensisikan yang integral dan mengempatkan sesuai dengan tuntutan yang digariskan oleh Allah SWT.

B. PENGERTIAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

Secara etimologi pemikiran berasal dari kata dasar pikir, berarti proses, cara atau perbuatan memikir yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Dalam konteks ini pemikiran dapat diartikan sebagai upaya cerdas (ijtihady) dari proses kerja akal dan kalbu untukmelihat fenomena dan berusaha mencari penyelesaiannya secara bijaksana sedangkan pendidikan, secara umum berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam usaha mendewasakan manusia (peserta didik),melalui upaya pengajaran dan latihan. Serta proses perbuatan dan cara-cara mendidik. Dengan berpijak pada definisi diatas. maka yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan islam adalah proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan islam dan berupaya untuk membangun sebuah peradaban pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna.

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN MEMPELAJARI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

Secara khusus pemikiran pendidikan islam memiliki tujuan sangat komplek diantaranya adalah :

1. Untuk membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan islam.

2. Untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar islam.

3. Untuk menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditujukan oleh Rosulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan, terutama dalam merekonstruksi sistem pendidikan islam yang lebih baik.

4. Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.

D. SEKILAS SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri. keduanya tak dapat sipisahkan antara satu dengan yang lain. Manusia tidak akan bisa berkembang secara sempurna bila tidak ada pendidikan untuk itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar bagi meneruskan dan mengekalkan kebidayaan manusia. Disini, fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan kebudayaan lama dengan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana pemikiran pendidikan islam masa nabi sudah tentu tidak sesistematis dan secanggih yang ada sekarang ini. Meskipun demikian perhatian umat terhadap ilmu pengetahuan jelas sangat tinggi dan hal ini terwujud sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu. Ketika di makkah, proses pendidikan islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di dar al-arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah. setidaknya ada empat alasan pentingnya pelacakan pendidikan dan sesudahnya, yaitu : pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda.bahkan pendidikan seringkali dijadikan tolak ukur layak atau tidaknya manusia menduduki dan melaksanakan amanat Allah sebagai khalifah fi al-ardh. sebagaimana firman Allah SWT.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa deraja”t. (Q.S. 28 : 11)

Munculnya dinamika penbaruan pemikiran pendidikan yang dilakukan sejumlah intelektual muslim dari masa ke masa, tidak terlepas dari kondisi objektif sosial-budaya dan sosial keagamaan umat islam itu sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa dinamika pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim, sejak masa awal sampai pada era posmodernisme telah berupaya merekonstruksi guna terciptanya sistem pendidikan islam yang ideal. kelompok intelektual muslim tersebut antara lain adalah :

1. Ibnu Maskawih (Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub ibn Miskawih), lahir di rayy sekitar tahun 320 H./ 432 M. dan meninggal di isfaham pada tanggal 9 safar buwaihi yang berlatarbelakang mazhab syi’ah. Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal ini tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah umpamanya, ia belajar dengan Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-qadhi, filsafat dengan ibn al-khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib. Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. hal ini tercermin dari karya monumentalnya, Tahzib al-akhlaq. melalui karya tersebut Miaskawih menyetakan bahwa tujuan endidikan adalah terwujudnya sikap batin yang secara spontan mampu mendorong lahirnya perilaku dalam memperoleh kerimah-perilaku yang demikian akan sangat membantu peserta didik dalam memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan yang sejati.

2. Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina) lahir pada tahun 370/ 980 di asyanah, Bukhara (dalam peta modern masuknya Turkistan) ia wafat oleh penyakit disentri pada tahun 428/ 1037 dan dimakamkan di Hamadan (sekarang dalam wilayah Iran). Hasil pemikiran dari Ibn Sina diantaranya :

a. Falsafah wujud

b. Falsafah Faidh

c. Falsafah Jiwa

3. Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 406 M.

Diantara stressing ruint pemikiran Khaldum adalah pada bidang pendidikan islam dalam melaksanakan pendidikan, maka menurut Khaldum paling tidak ada dua tujuan yang perlu disentuh yaitu jasmaniah dan rohaniah.

4. Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin, lahir pada tahun 1265 H/ 1849 M. Pada sebuah desa dipropinsi Gharbuyyah-ia lahir dari lingkungan petani sederhana yang taat dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.

Menurut Abduh metode yang kuno sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dewasa ini, sebab metode tersebut menurut tumbuhnya daya peserta didik dalam bukunya al- a’mal al-kamila Abduh menawarkan metode pendidikan yang lebih dinamis dan kondusif bagi pengembangan intelektual peserta didik. Metode yang di maksud adalah metode diskusi.

5. Ismail raji al faruqi, lahir di Sayfa (palestina) pada tanggal 1 Januari 1921. Ia meninggal pada tanggal 1986. latar belakang pendidikannya ditempuh pada pendidikan barat yaitu Colege Des Peres (1936). Kemudian pendidikan pasca sarjana mudanya ia rampungkan pada America University (1941). Kemuudian program magisternya pada Indian University dan harvard University dalam bidang filsafat. sedangkan gelar doktor ia peroleh pada indian university dalam bidang yang sama.

Menurut analisis al-faruq umat islam saat ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan lemah, baik secara moral, politik, dan ekonomi terutama komunitas intelektual dalam wacana keagamaan, umat islam terbelenggu oleh Khurafal, kondisi ini membuat umat islam taqlid yang berlebihan terutama dalam aspek syariat. Kondisi ini membuat umat islam berada dalam kondisi statis dan enggan melakukan kreativitas, ijtihad.

6. Syed Muhammad Waquib al-attas dilahirkan di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Paradigma pemikiran al-attas bila diaji secara historis merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari dunia metafisika kemudian kedunia kosmologis dan mermuara pada dunia psikologis, perjalanan kehidupan dan pengalaman pendidikannya memberikan andil yang yang sangat besar dalam pembentukan paradigma pemikiran selanjutnya.

BAB II

MANUSIA MENURUT AL-QUR’AN

SUATU TINJAUAN TEMATIK

A. Konsep Al-Insaniah Suatu Tinjauan Quaranik

Upaya untuk menyingkap hakikat manusia secara utuh telah banyak menyita perhatian baik kalangan ilmuan filosof bahkan para agamawan sepanjang masa. Pendefinisian ini dipandang perlu untuk membantu manusia mengenal dirinya serta mampu menentukan bentuk aktivitas yang dapat mengantarkannya pada makna kebahagiaan yang sesungguhnya namun upaya tersebut gagal. Manusia hanya mampu menyingkap hakikat dirinya pada batas instrumen dan bukan pada substansi. Sulitnya mengingkap substansi manusia bahkan disadari oleh Alexis carrel. Carrel menyebut manusia sebagai makhluk misterius dan uniknya tak mampu ditelusuri secara keseluruhan. Ketidak mampuan manusia dalam menelusuri substansi dirinya secara utuh, disebabkan karena keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya, terutama dalam menyingkap hal-hal rohaniah yang bersifat abstrak. Keterbatasan ini menurut Quraish Shihab disebabkan tiga faktor, yaitu pertama dalam sejarah kehidupannya, manusia lebih tertarik melakukan penyelidikan tentang alam materi (konkrit) dibandingkan pada material yang bersifat immaterial (abstrak). Kedua keterbatasam akal manusia yang hanya mampu memikirkan hal-hal yang bersifat instrumental ketimbang hal-hal yang substansial dan kompleks. Ketiga kompleks dan uniknya masalah manusia.

1. Istilah Manusia Dalam Al-Qur’an

Setidaknya ada tiga kta yang digunakan untuk mewujudkan makna manusia yaitu Al-basar, al-insan, dan al-naf, meskiupn ketiga kata tersebutmenunjuk pada makna manusia namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat pula di uraikan sebagai berikut:

a. Kata al-basyar dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat, secara etimologi, al-basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut, penanaman ini menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibandingkan rambut bulunya. pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih di dominasi bulu atau rambut. Firman Allah dalam Q.S. 18 : 110)

“Katakanlah sesunguhnya aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku………. (Q.S. 18 : 110).

Dengan pemaknaan yang diperkuat umat diatas dapat dipahami bahwa seluruh manusia (Bumi adam 4-5) akan mengalami proses reproduksi seksual dan senantiasa berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan biologisnya, memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk terhadap hukum alamiahnya. baik yang berupa sunnahtullah (sosial-kemasyarakatan) maupun takdir allah (hukum alam).

b. Kata al-ihsan yang berasal dari kata al-uns dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 73 kali dan tersebear dalam 43 surat. secara etimologi al-ihsan digunakan al-qura’n untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Perpaduan antara aspek fisik dan psikis telah membantu manusia untuk mengembangkan dimensi al-ihsan yaitu sebagai makhluk berbudaya yangmampu berbicara mengetahui baik dan buruk, mengembangkan ilmu pengetahuan yang mampu berbicara mengetahui baik dan buruknya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban dan lain sebagainya, Allah berfirman :

“Ayahnya berkata : hai anakku, janganlah kamu ceritakan impianmu itu kepada sandara-saudaramu, maka mereka membuat makan (untuk membinasakanmu) sesungguhnya syaitan itu adalahmusuh yang nyata bagi manusia:. (Q.S. 12 : 5).

c. Kata al-nas dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat, kata al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya. dalam menunjukkan makna manusia, kata al-nas lebih bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-insan. seperti dalam firman Allah’ pada Q.S. 2 : 24.

“Maka jika kamu tidak dapat membuatnya dan pasti kamu tidak akan dapat membuanya, peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir (Q.S. 2 : 24).

2. Proses dan Tujuan Penciptaan Manusia

Pada hakikatnya penciptaan manusia dapat ditujukan dari dua asala pendekatan yaitu pertama proses penciptaan manusia pasca Adam (keturunan Adam) tercipta dari Nutfah dan kemudian mengalami proses panjang dan bertahap dalam hal ini allah SWT berfirman :

“Yang membuat segala sesuatu yang dia kemudian sebaik-baiknya dan yang memulai penciptann manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang bina (air mani) kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuhnya) roh (ciptaan-nya) dan dia menjadikan bagi kalian pendengaran. penglihatan dan hati tetapi kalian sedikit sekali yang bersyukur (Q.S. 32 : 7-4).

Analisis leteran dari ayat diatas menunjukkan bahwa penciptaan manusia mengandung bagian atau komponen dan proses yaitu adanya penciptaan, adanya bahan (materi) cara atau metode penciptaan, transformasi dan model khusus dari hasil akhir tahapan proses kejadian manusia sebagaimana isyarat yang telah dilukiskan dalam al-qur’an dapat dilihat kepada beberapa proses antara lain : pertama, nutfah yaitu sati pati makanan yang telah berubah menjadi air mani yang masuk kedalam rahim. Hal ini dinukilkan allah dalam al-qur’an.

“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim). (Q.S. 75 : 37).

“Kedua sperma dalam rahim bercampur dengan ovum (gen sel produksi wanita kemudian terjadi pembuahan sel dalam rahim yang kemudian berproses menjadi segumpal darah.” dalam ayat lain allah juga berfirman

“kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu alllah menciptakannya dan menyempurnakannya (Q.S. 75 : 38).

ketika berproses menjadi segumpal daging untuk kemudian diciptakannya tulang belulang (kerangka manusia) yang dibalut dengan daging selama 40 har. fase-fase tersebut meliputi : Setelah terjadinya pembuahan antara sel sperma dan ovum dalam rahim berproses menjadi nutfah selama 40 hari, kemudian menjadi alaqah selama 40 hari dan kemudian menjadi mudlghah selama 40 hari, untuk kemudian ditiupkannya roh serta perlenkgpan manusia lainnya.

Keempat diciptakannya ruh dalam tubuh ciptaannya serta menetapkan ilmu, rezeki, ajal dan celaka-bahagia manusia pada tahap proses Allah berfirman :

“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuhnya juga roh (ciptaannya dan dia menkadi bagikamu pendengaran, penglihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (Q.S. 32 : 9).

Dari penjelasan diatas tergambarlah bahwa penciptaan manusia dalam proses alami (sunnatullah) terdiri dari 2 aspek pokok yairu aspek material dan aspek immaterial.

Aspek material adalah jasmaniah (jasad) yaitu jisim manusia tubuh badan Abu Ishak menjelaskan bahwa jasmaniah ialah sesuatu yang tidak bisa berpikir dan tidak dapat dilepaskan dari pengertian bangkai.

Aspek material adalah rohaniah. Aspek rohaniah tidak sama seperti aspek jasmaniah ia hanya terlihat dari adanya aktivitas jasmaniah. Beberaoa ulama mencoba memahami dan mendefinisikan roh sesuai dengan pandangan mereka masing-masing antara lain :

a. Imam Al-ghazali

Imam al-ghazali membagi kepada 2 bentuk yaotu al-ruh yaitu daya manusia untuk mengenal dirinya sendiri mengenal tuhanya dan mencapai ilmu pengetahuan sehingga dapat menentukan manusia kepribadian berakhlak mulia serta menjadi motivasi sekaligus penggerak bagi manusia dalam melaksanakan perintah allah swt. Yang kedua al-nafs yang berarti penas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi otot-otot dan syaraf manusia.

b. Ibn Qoyyim

Ibn Qoyyim berpendapat bahwa roh adalah jiwa yang berbeda denga jisim lahiriyah (jasmani)

c. Al-Farobi berpendapat bahwa roh merupakan daya penggerakan yang memiliki berbagai daya aktif sedangkan al-nafs memberikan pencaran kehidupan sehingga manusia dapat melakukan sejumlah aktivitas. Untuk itu manusia masih memerlukan kedatangan nabi sebagai penolong dalam menafsirkan ayat-ayat allah untuk keberadaan akal manusia setidaknya memiliki enam fungsi yaitu :

1. Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya

2. Mengetahuai adanya hidup diakhirat

3. Mengetahui bahwa kebahagiaan jiwa diakhirat tergantung pada sejauhmana akal mengenal tuhannya dan senantiasa berbuat baik sedangkan kesengsaraannya tergantung pada keterlibatan kedurhakaannya.

4. Mengetahui bahwa kewajiban manusia mengenal tuhan

5. Mengetahui kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk bagi kebahagiaannya kelak diakhirat

6. Membuat huku-hukum mengenai kewajiban tersebut yang belum ada di dinyalir dalam al-qur’an maupun hadits.

3. Tujuan Penciptaan Manusia dan Implikasinya Dalam Pendidikan

a. Manusia sebagai abd allah (hamba allah)

Manusia dalam kehidupannya dimuka bumi ini tidak bisa terlepas dati kekuasaannya yang transendental (allah) hal ini disebabkan karena manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Pada masa purba manusia mengsumsikan bahwa mitos yang melahirkan agama aniaisme dan dinamisme meskipun dengan kondisi yang cukup sederhana manusia dahulu telah mengakui ahwa diluar dirinya ada zat yang lebih berkuasa dan menguasai seluruh kehidupannya.

Firman allah dalam al-qur’an

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (alah) tataplah pada fitrah allah, yang selalu menciptakan manusia menurut fitrah (agama) itu tidak ada perubahan pada fitrah allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. 30 : 30).

b. Manusia Sebagai Khalifah Fil-Ardi

Manusia sebagai makhluk mulia, menempati posisi yang istimewa yang diberikan allah dimuka bumi. Hal ini karena manusia diciptakan dalam “citra allah” sehingga selayaknya manusia disebut sebagai mahkota ciptaannya. Kedudukan manusia dimuka bumi ini di sinyalir allah swt dalam firmannya :

”Dsan ingatlah tatkala tuhanmu berkata kepada malaikat sesungguhnya aku akan menjadikan seorang khalifar dimuka bumi (Q.S 2 : 30).

Bila ayat tersebut dianalisa lebih mendalam, maka akan terlihat bahwa manusia bukan sekedar hiasan, akan tetapi jauh dari itu manusia diberikan tugas utuk memelihara bumi ini. Dalam rangka beri’tiqaod kepada allah sehingga akan membedakannya denganmakhluk lainnya dalam kedudukan dan tanggung jawab.

Secara implisit memberikan gambaran bahwa dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah manusia dihadapkan pada beberapa konsekwensi yang harus dipertanggung jawabkan yaitu :

1. Senantiasa taat, tunduk dan patuh serta berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama islam.

2. Mempersiapkan diri denga seperangkat ilmu pengetahuan yang menopang terlaksananya tugas dan fungsinya sebagai khalifah Fil-ardi.

3. Bertanggung jawab terhadap amanat yang diberikan allah kepadanya, dengan cara memelihara serta memanfaatkan ilmu agama menterjemahkan ayat-ayat alqur’an.

B. Istilah Dan Konsep Fitrah Manusia Menurut Al-Qur’an Dan Hadits

Dalam dimensi pendidikan keutamaan dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk allah lainnya, secara bahasa kata fitrah berasal dati kata (fathara) yang berarti menjadikan, kata tersebut berasal dari kata al-fahtara yang berarti belahan atau pecahan. Hasan langgulung mengatakan fitrah tersebut sebagai potensi yang dimiliki manusia, potensi tersebut merupakan suatu keterpaduan yang tersimpul dalam al-ama’ al-husna (sifat-sifat allah) dengan berbagai potensi yang dimilikinya, diharapkan manusia dapat hidup dan serasi dan seimbang, dalam konsep ini allah swt berfirman :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungghnya pandangan, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya (Q.S 17 : 36).

Ayat diatas memberikan nuansa bahwa akal manusia mampu untuk hidup dengan harmonis kepada manusia diberikan potensi untuk menjadikan harapan-harapannya tersebut. Ibnu Tammiyah pada diri manusia memiliki sedaknya tiga potensi fitroh yaitu :

1. Daya intelektual yaitu potensi dasar yang memungkinkan manusia dapat membedakan nilai baik dan buruk.

2. Daya ofensif yaitu potensi dasar yang dimiliki manusia yang mampu menginduksi objek-objek yang mengemukakan dan bermanfaat bagi kehidupannya.

3. Daya defensif yaitu potensi dasar yang dapat menghindari manusia dari segala perbuatan yang memebahaakan dirinya.

BAB III

PENDIDIKAN DAN KAITANNYA DENGAN FITRAH MANUSIA

A. Konsep Pendidikan Menurut Islam

Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri. Dengan kata lain, keberadaan pendidikan bersamaan denga keberadaan manusia. Keduanya tak dapat dipisahkan lagi melainkan saling melengkapi. Pendidikan tidak akan punya arti bila manusia tidak ada didalamnyam karena manusia merupakan subjek dan objek pendidikan. Artinya manusia tidak akan bisa berkembang secara sempurna bila tidak ada pendidikan.

  1. Pengertian Pendidikan Islam

Untuk menunjukkan istilah pendidikan, manusia mempergunakan terma istilah tertentu. Dalam bahasa inggris, penunjukkan tersebut dengan menggunakan istilah education. Dalam bahasa arab pengertian kata pendidikan sering digunakan pada beberapa istilah antara lain, Al-Ta’lim yaitu bersifat pemberian atau penyampaian pengertian pengetahuan dan keterampilan., Al-Trabiyah yaitu mengasuh, mendidik dan memelihara dalam leksikal al-qur’an penunjukkan kata al-tarbiyaha yang merujuk pada pengertian pendidikan secara implisit tidak dikemukakan. Dan secara esensial kata al-tarbiyah mengandung dua makna yaitu: adalah merupakan proses transformasi sesuatu sampai pada batas kesempurnaan (kedewasaan) dan dilakukan secara bertahap. dan Al-Ta’dib yaitu proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik.

  1. Dasar Pendidikan Islam

Agar pendidikan islam dapat melaksanakan fungsinya sebagai agent of Culture dan bermanfaat bagi manusia itu sendiri maka perlu acuan pokok yang mendasarinya.

Dasar-dasar tersebut diantaranya :

a. Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab Allah swt. Yang memiliki perbedaan luas dan besar bagi pengembangan kebudayaan umat islam. Ia merupakan sumber pendidikan yang terbungkus, baik itu pendidikan kemasyarakatan (sosial) moral (akhlak) maupun spritual (kerohanian) serta material (kejasmanian) dana alam semedta.

b. Hadits (Asu-nnah)

Hadits asunnah berposisi dan berfungsi sebagai sumber pendidikan islam yang utama setelah al-qur’an eksistensinya merupakan sumber inspirator ilmu pengetahuan yang berisikan keputusan dan penjelasan dalam al-qur’an tapi masih memerlukan penjelasan lebih lanjut secara terperinci.

  1. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Islam

a. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan islam adalah menjadikan manusia sehingga insan pengabdi kepada khaliwnya guna mampu membangun dunia dan mengelola alam semesta beserta isinya.

b. Aspek-aspek tujuan pendidikan islam

Setidaknya tujuan pendidikan islam

1. Berorientasi pada tujuan dan tugas pokok manusia

2. berorientasi pada sifat dasar

3. Berorientstion ada tuntutan umum dan mayarakat.

c. Tahap-tahap tujuan pendidikan islam

Secara garis besar tahap-tahap tujuan pendidikan islam itu dapat dikelompokkan kepada 3 tahap yaitu :

1. Tujuan tertinggi : menjadikan hamba allah yang paling bertanya

2. Tujuan umum : mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik.

3. Tujuan khusus : Operasionalisasi dari tujuan umum dimulaki rujuan tertulis fendic’s

d. Fungsi pendidikan islam :

Fungsi pendidikan islam dapat dilihat dari dua dimensi yaitu :

1. Dimensi mikro (internal) yaitu manusia sebatas subjecit dan peradaban objek syiejkh.

2. Dimensi makro (eksternal) yaitu perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia sebagai hasil akumulasi dengan lingkungannya.

  1. Tanggung Jawab Pendidikan Islam

Secara umum menurut Hadari yang bertanggung jawab atas maju mundurnya pendidikan termasuk pendidikan islam ada pada puncak keluarga lingkungan rumah tangga) sekolah, lingkungan pendidikan msyakat (lingkungan sosial)

BAB IV

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM SUATU ALTERNATIF DESAIN PENDIDIKAN INTEGRAL

A. Pesan Pendidikan Islam : Suatu Pengembangan Dan Pembinaan Ftitrah Manusia

Perkembangan dan kemajuan peradaban yang telah dicapai manusia modern telah mencapai titik optimal dan sekaligus titik jenuh yang cukup menghawatirkan bagi kelangsungan peradaban yang cukup maju akan tetapi secara psikis, manusia modern telah mengalami kemunduran akibat hilangnya nilai-nilai ilahiyah dalam dirinya, sebagai nilai kontrol setiap aktivitas yang di lakukan sekaligus pembawa ketenangan jiwa. Sistem pendidikan islam mampu mengakomodasi seluruh potensi peserta didik dan dinamis, maka perlu terlebih dahulu dibangun strategi pendidikan yang applicable dan acceptable. Diantara persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam merekonstruksi ulang sistem pendidikan yang ideal antara lain adalah :

1. Tujuan pendidikan

2. Materi penididikan

3. Kurikulum pendidikan islam

4. Metode, sarana, dan prasarana persida

5. Evaluasi pendidiknya

6. Kesimpulan jenjang pendidikan

B. Format Pendidikan Islam Dan Relevansinya Bagi Pengembangan Sistem

Pendidikan nasional serta pembinaan manusia indonesia seutuhnya. Pengerbagnan peningkatan kemampuan (skill) sumber daya masyarakat kehidupan pembangunan suara bangsa. Berdasarkan keterang diatas operasional pendidikan dalam hal ini setidaknya ada dua kriteria.

1. Pentekalan

2. Pendekat wo

BAB V

PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI PADIGMA PEMBEBASA

Dalam al-qur’an potensi yang dimiliki manusia diistilahlan fitroh. Potensi atau fitrah yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupapakan kemampuan dasar manusia yangmeliputi kemampuan mempertahankan kelestarian kehidupannya. Kemampuan rasional maupun kemampuan srpiritual. Hanya saja kemampuan tersebut masih bersifat embrio utuk itu diperlukan berbagai upaya untuk mengombangkan dan memperkaya potensi tersebut secara aktif. Upaya media pendidikan, setelah kesemuan dimensi potensi tersebut mampu dimunculkan secara aktif dan dinamis potensi tersebut mampu dimunculkan secara aktif dan dinamis maka pedding harnes pulang menjadi alat kontrol baik sebagai kekuatan moral, religious maupun control sosial terhadap dinamika kekuatan perkembangan yang dimiliki peserta didik.

Resume buku Ideologi Pendidikan Islam




RESUME


Judul buku : Ideologi Pendidikan Islam

Pengarang : Prof. Dr. Achmadi

Tebal halaman : 210

Penerbit : Pustaka Pelajar

Tahun Penerbit : 2005



BAB I

Format Ideologi Pendidikan Islam

Pendidikan termasuk wilayah muamalah duniawi-yah, maka menjadi tugas manusia untuk memikirkannya terus menerus seirama dengan perubahan zaman. Prinsip-prinsip pendidikan islam telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan telah terlihat hasilnya karena beliau mampu mengkomunikasikan islam agama fitrah dengan fitrah manusia.

Mengingat islam memiliki nilai-nilai universal yang fitrah manusia selalu membutuhkannya, maka cukup beralasan kalau pendidikan islam yang sudah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional dikemas dan ditawarkan kembali dengan pendekatan ideologi untuk memperkuat pilar system pendidikan nasional.

A. Ideologi Pendidikan Islam

1. Sisi positif dan negatif sebuah ideologi

Ideologi bagi pengikutnya memiliki fungsi positif. Menurut Vago yang dikutip oleh Haidar Nashir, ideologi memiliki fungsi: (1) memberikan legitimasi dan rasionalisasi terhadap perilaku dan hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat; (2) sebagai dasar atau acuan pokok bagi solidaritas sosial dalam kehidupan kelompok atau masyarakat, dan (3) memberikan motivasi bagi para individu mengenai pola-pola tindakan yang pasti dan harus dilakukan.

Menurut golongan positivistik yang dikategotikan ideologi adalah segala penilaian etis, norma, teori-teori metafisik dan keagamaan. Semua yang termasuk ideologi itu merupakan keyakinan yang tidak ilmiah karena tidak rasional dan hanya merupakan keyakinan subyektip. Bila ideologi dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, menurut Kuntowijoyo ideologi bersifat subyektif, normatif, dan tertutup sedangkan ilmu pengetahuan memiliki watak obyektif, faktual dan terbuka.

Untuk meminimalkan sisi negatif ideologi perlu dibatasi pada ideologi dalam arti netral dan ideologi terbuka. Ideologi dalam arti netral adalah sistem berfikir, nilai-nilai, dan sikap dasar rohani sebuah gerakan kelompok sosial atau kebudayaan. Dalam hal ini ideologi tergantung sisinya, kalau isinya baik maka ideologi itu baik, begitu pula sebaliknya. Ideologi terbuka adalah ideologi yang hanya menetapkan nilai-nilai dasar, sedang penerjemahannya ke dalam tujuan dan norma-norma sosial/ politik selalu dapat dipertanyakan dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip moral dan perkembangan cita-cita masyarakat. Operasinalisasinya tidak ditentukan secara apriori, melainkan harus disepakati secara demokratis.oleh karena it ideologi terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter, dan tidak dimaksudkan unntuk melegatimasi kepentingan sekelompok orang.

2. Humanisme teosentris sebagai peradigma ideologi pendidikan islam

Istilah humanisme teosentris sesungguhnya perpaduan antara humanisme dan teosentrisme, namun karena teosentrisme dimaksudkan untuk memberi sifat humanisme, maka menjadi humanisme teosentris.

Karena begitu berharganya konsep humanisme ini, maka dewasa ini terdapat sekurang-kurangnya empat aliran penting yang negklaim sebagai pemilik asli konsep humanisme, yaitu (!) Liberalisme Barat, (2) Marxisme, (3) Eksistensialisme, dan (4) Agama.

Walaupun keempat aliran iru memiliki perbedaan yang tajam bahkan saling bertentangan, namun mereka memiliki titik-titik kesepakatan mengenai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan sebagai nilai universal. Dalam hal ini Ali Syari’ati mendiskripsikannya ke dalam tujuh prinsip;

a. Manusia adaalah makhluk asli, artinya ia mempunyai substansi yang mandiri di antara makhluk-makhluk lain, dan memiliki esensi kemuliaan.

b. Manusia adalah mekhluk yang memiliki kehendak bebas yang merupakan kekuatan paling besar dan luar biasa . Kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat ilahiah yang merupakan ciri menonojol dalam diri manusia.

c. Manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir) sebagai karakteristik manusia yang paling menonjol. Sadar berarti manusia dapat memahami realitas alam luar dengan kekuatan berpikir.

d. Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, artinya dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memuliki pengetahuan budaya dan kemampuan membangun perasadaban.

e. Manusia adalah makhluk kreatif, yang menyebabkan manusia mampu menjadikan dirinya makhluk sempurna di depan alam dan dihadapan tuhan.

f. Manusia makhluk yang punya cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal, artinya dia tidak menyerah dan menerima “apa yang ada”, tetapi selalu berusaha megubahnya menjadi “apa yang semestinya”.

g. Manusia adalah makhluk moral, yang hal ini berkaitan dengan masalah nilai (value).

Humanisme yang diangkat menjadi peradigma ideologi pendidikan islam ini pada dasarnya juga berontak dari ketujuh prinsip dasar kemanusiaan tersebut karena sesungguhnya semua itu implicit dalam konsep fitrah manusia sebagaimana yang akan dibahas pada bab II. Akan tetapi humanisme dalam pandangan islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip teosentrisme. Di satu sisi keimanan “tauhid” sebagai inti ajaran islam, menjadi pusat seluruh orientasi nilai. Akan tetapi semua itu kembali untuk menusia yang dieksplisitkan dalam tujuan risalah islam “Rahmatan lil’alamin”.

Huanisme islam adalah humanisme teosentrisme karena islam adalah agama yang sangat memetingkan manusia, menghargai harkat dan martabat manusia, dan mengantarkannya ke tingkat kemuliaan yang tingi dengan bimbingan nilai-bilai ilahiah “tauhidi”.

B. Pengertian Pendidikan Islam

Di dalam Al-Quran dan Hadits sebagai sumber utama ajaran islam dapat ditemukan kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan, yaitu Rabba, ‘allama, addaba.

Dalam bahasa Arab, kata-kata Rabbaallama, dan addaba tersebut di atas mengandung pengertian sebagai berikut :

a. Kata kerja rabba yang masdarnya tarbiyahtan memiliki beberapa arti, antara lain mengasuh, mendidik dan memelihara. Di samping kata rabba ada kata-kata yang serumpun dengannya yaitu rabba yang berarti memiliki, memimpin, memperbaiki, menambah. Rabba juga berarti tumbuh atau berkembang.

b. Kata kerja ‘allama yang masdarnya ta’liman berarti mengajar yang lebih bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan keterampilan.

Kata kerja addaba yang masdarnya ta’diban dapat diartikan mendidik yang secara sempit mendidik budi pekerti dan secara lebih luas meningkatkan peradaban. Muhammad Naqib Al-Attas dalam bukunya, konsep Pendidikan islam, dengan gigih mempertahankan penggunaan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan islam, bukan tarbiyah, dengan alasan bahwa dalam istilah ta’dib , mencakup wawasan ilmu dan amal yang merupakan esensi pendidikan islam.

Ketiga istilah tersebut (tarbiyah,ta’lim, dan ta’dib) merupakan satu kesatuan yang saling terkait artinya, bila pendidikan dinisbatkan kepada ta’dib ia harus melalui pengajaran (ta’lim) sehingga dengannya diperoleh ilmu. Agar ilmu dapat dipahami, dihayati, dan selanjutnya diamalkan oleh peserta didik perlu bimbingan (tarbiyah).

Istilah tarbiyah masdar dari rabba serumpun dengan akar kata rabb (tuhan). Oleh karenanya tarbiyah yang berarti mendidik dan memelihara implisit di dalamnya istilah rabb (tuhan) sebagai rabb al-‘alamin.

Berkenaan dengan masalah ini ‘Abdur-Rahman an-Nahlawi menjabarkan konsep at-tarbiyah dalam empat unsur;

  1. Memelihara pertumbuhan fitrah manusia
  2. Mengarahkan perkembangan fitrah manusia menuju kesempurnaannya.
  3. Mengembangkan potensi insani (sumber daya manusia) untuk mencapai kualitas tertentu.
  4. Melaksanakan usaha-usaha tersebut secara bertahap sesuai dengan irama perkembangan anak.

Implikasi penggunaan istilah dan konsep tarbiyah dalam pendidikan islam ialah :

1. Pendidikan bersifat humanis-teosentris artinya berorientasi pada fitrah dan kebutuhan dasar manusia, yang diarahkan sesuai dengan sunnah (skenario) tuhan “pencipta”.

2. Pendidikan bernilai ibadah karena tugas pendidikan merupakan bagian tugas dari kekhalifaannya, sedangkan pendidikan yang hakiki adalah Allah “Rabbul’alamin”.

3. Tanggung jawab pendidikan tidak hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada tuhan.

Mengingat betapa luas dan kompleksitasnya risalah islamiyah maka sebenarnya yang dimaksud dengan pengertian pendidikan islam ialah: “Segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kami) sesuai dengan norma islam.”

Pengertian pendidikan islam tersebut sejalan dengan konsepsi baru hasil konperensi dunia pertama tentang pendidikan islam tahun 1977 di Meka, yang menyatakan bahwa pendidikan islam tidak lagi hanya berarti pengajaran teologik atau pengajaran Al-Qur’an, hadits dan fiqih, tetapi memberi arti pendidikan di semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan dari sudut pandang islam.

Adapaun pengertian pendidikan agama islam ialah “usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman (religiousitas) subyek didik agar lebih mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran islam.”

C. Fungsi Pendidikan Islam

Dengan pengertian pendidikan islam seperti di atas fungsi pendidikan islam sudah cukup jelas, yaitu memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya manusia menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia berkualitas sesuai dengan pandangan islam.

Ditinjau dari segi antropologi budaya dan sosiologi, fungsi pendidikan yang pertama ialah menumbuhkan wawasan yang tepat mengenai manusia dan alam sekitarnya, sehingga dengan demikian dimungkinkan tumbuhnya kemampuan membaca (analisis), kreativitas dalam memajukan hidup dan kedidupannya dan membangun lingkungannya.

Dari kajian antropologi dan sosiologi secara sekilas diatas dapat kita ketahui adanya tiga fungsi pendidikan;

1. Mengembangkan wawasan subjek didik mengenai dirinya dan alam sekitarnya, sehingga dengannya akan timbul kemampuan membaca (analisis), akan mengembangkan kreativitas dan produkstivitas.

2. Melestarikan nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupannya sehingga keberdaannya, baik secara individual maupun sosial, lebih bermakna.

3. Membuka pintu ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan kemajuan hidup individu maupun sosial.

Apabila dari kajian antropologi dan sosiologi tersebut dikembalikan pada sudut pandang Al-Qr’an sebagai sumber utama pendidikan islam, maka fungsi pertama dan terutama pendidikan islam adalah memberikan kemampuan membaa (iqra’) pada peserta didik.

Dengan menegembalikan kajian antropologi dan sosiologi ke dalam perspektif al-Qur’an dapat dismpulkan bahwa fungsi pendidikan islam ialah :

1. Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran ilahi, sehingga tumguh kemampuan membaca (analisis) fenomena alam dan kehidupan serta memahami hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan kemampuan ini akan menumbuhkan kreativitas dan produktivitas sebagai implementasi identifikasi diri pada tuhan “pencipta”.

2. Menbebaskan manusia dari segala anasir yang dapat merendahkan martabat manusia (fitrah manusia), baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar.

3. Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupun soaial.

BAB II

Fitrah Manusia Dan Implikasinya Dalam Pendidikan

A. Pengertian Fitrah

Fitrah berasal dari kata fathara yang sepadan dengan kata khalaqa dan ansyaa yang artinya mencipta. Biasanya kata fathara, khalaqa dan ansyaa digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengertian mencipta sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar (blue print) yang perlu penyempurnaan.

B. Fitrah Manusia

Konsep fitrah manusia yang mengandung pengertian pola dasar kejadian manusia dapat dijelaskan dengan meninjau: (1) Hakekat wujud manusia, (2) Tujuan penciptaannya, (3) Sumber Daya Insani (SDM), (4) Citra manusia dalam islam.

1. Hakekat wujud manusia

  1. Manusia Makhluk Jasmani-Ruhani Yang Paling Mulia

Kemuliaan manusia dapat ditinjau baik dari segi fisik maupun ruhaninya, karena ia adalah makhluk jasmani rohani.

Segi fisik biologis.

Jasad atau fisik manusia asal mulanya dari tanah. Setelah berproses menjadi bentuk manusia dalam Al-Qur’an disebut basyar, (Q.S. al-Hijr; 28) yakni makhluk fisik-biologis. Sebagai makhluk biologis kejadinnya hampir sama dengan makhluk biologis lainnya terutama jenis binatang mamalia, yaitu dari nutfah, ‘alaqah kemudian mudhghah embrio) dan akhirnya terbentuklah janin, yang strukturnya secara gradual lebih sempurna dari binatang. (Q.S. at-: Tin 4 dan al-Mukminun: 13-14).

  1. Manusia makhluk yang suci ketika lahir

Kesucian manusia biasanya dikaitkan dengan kata “fitrah”. Di tinjau dari segi bahasa hal ini sesungguhnya kurang tepat karena pengertian fitrah, sebagaimana telah dijelaskan, ialah asal kejadian atau pola dasar penciptaan. Bila dikaitkan dengan asal kejadiannya, manusia ketika baru lahir memang masih suci dari segala noda dan dosa, walaupun ia lahir dari kedua orang tua yang bergelimang dosa.

  1. Manusia makhluk etis religious

Sebagai rangkaian wujudnya yang suci di kala lahir, tuhan senantiasa akan membimbingnya sengan agama yang sesuai dengan fitrah manusia, Allah berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (allah) (tetaplah) atas fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. ar-Rum: 30).

  1. Manusia makhluk individu dan sosial

Karena manusia makhluk individu dan social, maka pendidikan juga sering diartikan sebagai individualisasi dan sosialisasi.

Individualisasi:

Proses pengembangan dan perkembangan individua menjadi pribadi disebut individualisasi, yaitu proses perkembangan seseorang dengan seluruh wujudnya sebagai manusia dengan fitrah dan sumber daya manusianya, sehingga mencapai kualitas tertentu dan mampu bertanggung jawab secara pribadi atas keberadaannya.

Indiviudalisasi memusatkan perhatian secara individual proses pemeliharaan fitrah dan pengembangan SDM.

Sosialisasi

Manusia sebagai makhluk sosial juga berarti setiap individu tidak mungkin hidup layak tanpa terkait dengan kelompok masyarakat manusia lainnya. Itulah sebabnya dalam masyarakat demokratik, masyarakat dan individu saling komplementer. Hal ini dapat diketahui pada:

a. Manusia dipengaruhi oleh masyarakat dalam pembentukan pribadinya.

b. Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan pengaruhnya bisa menimbulkan perubahan besar bagi tatanan masyarakat.

Mengakhiri pembicaraan tentang hakikat wujud manusia menurut pandangan islam, kesimpulan yang diberikan oleh “Abbas Mahmud al-Aqqad kiranya akan memperkuat uraian di atas, yakni :

1. Manusia adalah makhluk mukallaf (makhluk yang diberi amanat/ memikul tanggung jawab).

2. Manusia adalah makhluk yang merupakan gambar tuhan (‘ala suratil-khaliq).

Implikasi pernyataan ini ialah manusia harus siap memikul tanggung jawab atas kekhalifahannya.

Dari hakekat wujudnya sebagai makhluk individu dan sosial dapat disimpulkan bahwa menurut pandangan islam keberadaan pribadi seseorang adalah:

1. Pribadi yang aktivistik karena tanpa aktivitas dalam masyarakat berarti adanya sama dengan tidak ada (wujuduhu ka ‘adamihi), artinya hanya dengan aktivitas, manusia baru diketahui bagaimana pribadinya.

2. Pribadi yang bertanggung jawab secara luas, baik terhadap dirinya, terhadap lingkungannya, maupun terhadap tuhan.

3. Dengan kesimpulan di atas mengeinplisitkan adanya pandangan rekonstruksionisme (rekonstruksi sosial) dalam pendidikan islam melalui individualisasi dan sosialisasi.

2. Tujuan Penciptaan

a. Tujuan utama penciptaan manusia ialah agar manusia beribadah kepada Allah. (Q.S. Az-Zahriyah: 56).

b. Manusia dicipta untuk diperankan sebagai wakil tuhan di muka bumi. (Q.S. Al-Baqarah: 30, Yunus 14, Al-An’am: 165).

c. Manusia dicipta untuk membentuk masyarakat manusia yang saling kenal-mengenal, hormat menghormati dan tolong-menolong antara satu dengan yang lain (Q.S. Al-Hujurat: 13), tujuan penciptaan yang ketiga ini menegaskan perlunya tanggung jawab bersama dalam menciptakan tatanan kehidupan dunia yang damai.

3. Sumber Daya Manusia

Esensi SDM yang membedakan dengan potensi-potensi yang diberikan kepada makhluk lainnya dan memang sangat tinggi nilainya ialah “kebebasan” dan “hidayah Allah”, yang sesungguhnya inheren dalam fitrah manusia.

4. Citra manusia dalam islam.

Berdasarkan uraian tentang fitrah manusia ditinjau dari hakekat wujudnya, tujuan penciptaannya dan sumber daya insaninya, tergambar secara jelas bagaimana citra manusia menurut pandangan islam:

a. Islam berwawasan optimistik tentang manusia dan sama menolak sama sekali anggapan pesimistik dari sementara filosof eksistensialis yang menganggap manusia sebagai makhluk yang terdampar dan terlantar dalam hidup dan harus bertanggung jawab sendiri sepenuhnya atas eksistensinya.

b. Perjuangan hidup manusia bukan sekedar trial and error belaka tetapi sudah mempunyai arah dan tujuan hidup yang jelas dan yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana. Untuk mencapainya manuia telah diberi pedoman serta kemampuan, yakni akal dan agama.

c. Manusia makhluk yang paling mampu bertanggung jawab karena dikaruniai seperangkat alat untuk dapat bertanggung jawab yaitu kebebasan berpikir berkehendak, dan berbuat.

C. Implikasi Fitrah Manusia Dalam Pendidikan

1. Pemberian stimulus dan pendidikan demokratis

Manusia ditinjau dari segi fisik-biologis mungkin boleh dikatakan sudah selesai, “Physically and biologically is finished”, tetapi dari segi rohani, spiritual dan moral memang belum selesai, “morally is unfinished”.

Manusia tidak dapat dipandang sebagai makhluk yang reaktif, melainkan responsif, sehingga ia menjadi makhluk yang responsible (bertanggung jawab). Oleh karena itu pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang memberikan stimulus dan dilaksanakan secara demokratis.

2. Kebijakan pendidikan perlu pertimbangan empiris.

Dengan bantuan kajian psikologik, implikasi fitrah manusia dalam pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa jasa pendidikan dapat diharapkan sejauh menyangkut development dan becoming sesuai dengan citra manusia menurut pandangan islam.

3. Konsep fitrah dan aliran konvergensi

Dari satu sisi, aliran konvergensi dekat dengan konsep fitrah walaupun tidak sama karena perbedaan paradigmanya. Adapun kedekatannya:

Pertama: Islam menegaskan bahwa manusia mempunyai bakat-bakat bawaan atau keturunan, meskipun semua itu merupakan potensi yang mengandung berbagai kemungkinan,

Kedua: Karena masih merupakan potensi maka fitrah itu belum berarti bagi kehidupan manusia sebelum dikembangkan, didayagunakan dan diaktualisasikan.

Namun demikian, dalam Islam, faktor keturunan tidaklah merupakan suatu yang kaku sehingga tidak bisa dipengaruhi. Ia bahkan dapat dilenturkan dalam batas tertentu. Alat untuk melentur dan mengubahnya ialah lingkungan dengan segala anasirnya. Karenanya, lingkungan sekitar ialah aspek pendidikan yang penting. Ini berarti bahwa fitrah tidak berarti kosong atau bersih seperti teori tabula rasa tetapi merupakan pola dasar yang dilengkapi dengan berbagai sumber daya manusia yang potensial.

BAB III

Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam

Dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang melandasi seluruh aktifitas pendidikan, sedangkan tujuan pendidikan adalah apa yang akan dicapai melalui pendidikan.

A. Dasar Pendidikan Islam

Islam sebagai pandangan hidup yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah, baik yang termuat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul diyakini mengandung kebenaran mutlak yang bersifat transedental, universal dan eternal (abadi), sehingga akidah diyakini oleh pemeluknya akan selalu sesuai dengan fitrah manusia, artinya memenuhi kebutuhan manusia kapan dan dimanapun (likulli zamanin wa makanin).

Dengan demikian, karena pendidikan Islam adalah upaya normatif yang berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, maka harus didasarkan pada nilai-nilai tersebut di atas baik dalam menyusun teori maupun praktik pendidikan.

Dasar pendidikan Islam adalah yang tergolong intrinsik, fundamental, dan memiliki posisi paling tinggi adalah tauhid karena merupakan seluruh fondasi seluruh bangunan ajaran Islam.

Pandangan hidup tauhid bukan sekedar pengakuan akan keesaan Allah, tetapi juga meyakini kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan dari kesatuan hidup (unity of Godhead).

Dengan dasar tauhid ini, tampak jelas bahwa pendidikan Islam berlandaskan pandangan teosentrisme (berpusat pada Tuhan).

Perlu juga dijelaskan bahwa pandangan hidup yang melandasi pendidikan Islam merupakan perpaduan antara teosentrisme dan humanisme, sehingga terbentuklah istilah humanisme-teosentris.

Karena pendidikan Islam juga berlandaskan humanisme, maka nilai-nilai fundamental yang secara universal dan obyektif merupakan kebutuhan manusia perlu dikemukakan sebagai dasar pendidikan Islam, walaupun posisinya dalam konteks tauhid sebagai nilai instrumental. Nilai-nilai yang dimaksud meliputi kemanusiaan, kesatuan umat manusia, keseimbangan, dan rahmat bagi seluruh alam. (rahmatan li- al-‘alamin).

B. Tujuan Pendidikan Islam

1. Konsep Tujuan Pendidikan Islam.

Menurut Sikun Pribadi, tujuan pendidikan merupakan masalah inti dalam pendidikan, dan saripati dari seluruh renungan pedagogik. Dengan demikian, tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan jalannya pendidikan sehingga perlu dirumuskan sebaik-baiknya sebelum semua kegiatan pendidikan dilaksanakan.

Suatu rumusan tujuan akan tepat apabila sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu perlu ditegaskan fungsi dari pendidikan itu sendiri. Di antara para ahli didik ada yang berpendapat bahwa fungsi tujuan pendidikan ada tiga yang kesemuanya bersifat normatif:

a. Memberikan arah bagi proses pendidikan. Sebelum kita menyusun kurikulum, perencanaan pendidikan dan berbagai aktivitas pendidikan, langkah yang harus dilakukan pertama kali ialah merumuskan tujuan pendidikan. Tanpa kejelasan tujuan, seluruh aktivitas pendidikan akan kehilangan arah, kacau bahkan menemui kegagalan.

b. Memberikan motivasi dalam aktivitas pendidikan karena pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan nilai-nilai yang ingin dicapai dsan diinternalisasikan pada anak atau subjek didik.

Tujuan pendidikan merupakan kriteria atau ukuran dalam evaluasi pendidikan. Menurut Omar Muhammad Attoumy Asy-Syaebani, tujuan pendidikan Islam memiliki empat ciri pokok

a. Sifat yang bercorak agama dan akhlak.

b. Sifat kemenyeluruhannya yang mencakup segala aspek pribadi pelajar (subjek didik), dan semua aspek perkembangan dalam masyarakat.

c. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur-unsur dan cara pelaksanaannya.

d. Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan perseorangan diantara individu, masyarakat dan kebudayaan dimana-mana dan kesanggupannya untuk berubah dan berkembang bila diperlukan.

2. Pembagian dan Pentahapan Tujuan Pendidikan

Berdasarkan catatan diatas, dapat dikemukakan pentahapan sebagai berikut:

a. Tujuan tertinggi dan terakhir.

b. Tujuan umum

c. Tujuan khusus

a) Tujuan Tertinggi / Terakhir

Tujuan tertinggi dan terakhir ini pada dasarnya sesuai dengan tujuan hidup dan peranannya sebagai ciptaan Allah, yaitu:

1) Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

2) Mengantarkan subjek didik menjadi khalifatullah fil ard (wakil Tuhan di bumi) yang mampu memakmurkannya (membudayakan alam sekitarnya).

3) Memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat.

b) Tujuan umum pendidikan Islam.

Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatan filososif, tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian subjek didik, sehingga mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah pribadi yang utuh. Itulah yang disebut aktualisasi diri (self-realization).

Pendekatan empiris dikembalikan pada pendekatan Qurani. Dalam hal ini, Muhammad Fadil Al-Jamali mengemukakan tujuan pendidikan dalam perspektif qur’ani tersebut sebagai berikut:

a) Mengenalkan manusia akan peranannya diantara makhluk dan tanggung jawab pribadinya dalam hidup.

b) Mengenalkan manusia akan hubungannya dengan lingkungan sosialnya dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.

c) Mengenalkan manusia dengan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptanya dan serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaatnya.

d) Mengenalkan manusia dengan pencipta alam (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.

Keempat tujuan tersebut merupakan satu rangkaian atau satu kesatuan, tetapi tujuan pertama sampai dengan ketiga merupakan sarana untuk mencapai tujuan keempat yaitu ma’rifatullah dan taat beribadah kepadanya.

c) Tujuan khusus pendidikan Islam

Tujuan khusus ialah pengkhususan atau operasionalisasi tujuan tertinggi, terakhir dan tujuan umum pendidikan Islam. Tujuan khusus bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tertinggi, terakhir dan umum itu. Pengkhususan tersebut dapat didasarkan pada :

- Kultur dan cita-cita suatu bangsa dimana pendidikan itu diselenggarakan;

- Minat, bakat, dan kesanggupan subjek didik; dan

- Tuntunan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.

BAB IV

Isi Pendidikan Islam

A. Nilai Sebagai Pendidikan Islam

Islam memandang adanya nilai mutlak dan nilai intrinsik yang berfungsi sebagai pusat dan muara semua nilai. Nilai tersebut adalah tauhid (uluhiyah dan rububiyah) yang merupakan tujuan (ghayah) semua aktifitas hidup muslim. Semua nilai-nilai lain yang termasuk amal shalih dalam Islam merupakan nilai instrumental yang berfungsi sebagai alat dan prasyarat untuk meraih nilai instrumental yang berfungsi sebagai alat dan prasyarat untuk meraih nilai tauhid.

Dalam menjabarkan konsep nilai baik dasar maupun instrumental sebagai bagian dari pengembangan kurikulum pendidikan Islam, dapat dielaborasi dari:

Nilai-nilai yang banyak disebutkan secara eksplisit dalam Al Quran dan Hadits yang semuanya terangkum dalam ajaran akhlak yang meliputi akhlak dalam hubungannya dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam dan makhluk lainnya.

Nilai-nilai universal yang diakui adanya dan dibutuhkan oleh seluruh umat manusia karena hakekatnya sesuai dengan fitrah seperti cinta damai, menghargai hak asasi manusia, keadilan, demokrasi, kepedulian sosial dan kemampuan.

B. Ilmu Pengetahuan Sebagai Isi Pendidikan Islam

Ilmu yang telah digelar oleh Allah lewat ayat-ayat Nya (qauliyah dan kauniyah) , memang dipersiapkan oleh Allah sebagai fitrah manusia, artinya memenuhi dorongan asasi manusia yaitu keingintahuan (curiosity) terhadap segala sesuatu (realita). Menurut Ibnu Khaldun ilmu pengetahuan dan pembelajaran adalah Tabi’i (pembawaan) manusia karena adanya kesanggupan berfikir. Secara teologis, mencari dsan mengembangkan ilmu pengetahuan yang merupakan implementasi fitrah keingintahuan itu pada hakekatnya proses identifikasi diri dengan asma’al-husna “al-‘Alimu” (Allah Yang Maha Tahu).