Selasa, 29 September 2009

TEORI HERMENEUTIKA NASHR HAMID ABU ZAID




TEORI HERMENEUTIKA

NASHR HAMID ABU ZAID

Kata pengantar

Bismillahirrohmanirrohim

Assalmu Alaikum Wr. Wb.

Al hamdulillah kami haturkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan beberapa kenikmatan yang berupa Iman, Islam dan kesehatan , sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul teori hermeneutika nasr hamid abu zaid.

Salawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW.rasul yang terahir yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam ilmiyah yang penuh barakah ini

Selanjutnya kami mengcapkan banyak terima kasih kepada dosen pengampu yang terhormat bapak Edi Susanto M Fili , yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Taklupa kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penulisan makalah ini , begitu juga kami mohon maaf apabila dalam penulisan ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.

Billahi taufiq walhidayah

Summassalamu alaikum Wr. Wb.

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar belakang masalah

Pendekatan yang amat lazim dilakukan oleh para ahli tafsir di dalam melakukan studi interpretasi teks al-Qur’an adalah menggunakan pendekatan bahasa. Dalam hal ini bukannya kita tanpa bukti untuk mengatakan bahwa sepanjang sejarah peradaban umat Islam telah menunjukkan bahwa para ahli tafsir sejak masa sahabat di kala itu yang terkenal adalah Ibnu abbas, sampai muncul berbagai ahli tafsir yang terkenal yang ditulis diera moderen, dan bahkan para islamisis barat sekalipun, tidak ketinggalan untuk menggunakan pendekatan bahasa tersebut. Dalam realisasinya pendekatan bahasa merupakan salah satu pendekatan yang sangat memungkinkan dan cocok dalam studi ilmu tafsir al-Qur’an, Karena al-Qur’an representasi nilai religius teologi muslim yang bercorak bahasa. Oleh karena itu maka sepantasnya , untuk mengkaji al-Qur’an setidaknya diperlukan suatu alat analisis yang sama dengan corak yang dimilikinya. Yaitu pendekatan bahasa

Bersamaan dengan perkembangan teori- teori ilmu pengetahuan di bidang bahasa. Ternyata ilmu liguistik modern telah memiliki peran yang signifikan terhadap perkembangan pendekatan studi al-Qur’an . Beberapa intelektual Muslim , telah mencoba mengembangkan teori-teori tersebut dalam studi al-Qur’an. Dalam kontek ini masih berada dalam bingkai ilmu liguistik, sebagi mana yang telah dikembangkan oleh bapak liguistik moderen, Ferdinan de Saussure, namun didalam aplikasinya terhadap studi al-Qur’an terdapat perbedaan satu sama lain. Saussure telah membuktikan dirinya sebagai ahli liguistik histories yang sangat cemerlang. yatitu tentang strukturalisme liguistik Yang akhirnya tanpa disadari oleh Saussure sendiri, buah pikirannyalah yang sebenarnya yang lebih banyak menyebabkan timbulnya revolusi dalam kajian bahasa . Perubahan itu selain disebabkan oleh wawasannya tentang pembahasan bahasa secara sinkronis, antara lain juga dilandarsi oleh wawasannnya tentang keberadaan bahasa sebagai suatu relasi structural sebagai suatu system unik yang berbeda antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, Sebab itulah kajian kebahasaan dalam stukturalisme , meskipun dapat terfokus pada unit- unit tertentu .

Strukturalisme banyak dilihat sebagai pendekatan secara diametral terpisah dengan hermenautika, hermenautika adalah dialektika dan gerak kembali dan seterusnya dari teks menuju interpereter dari teks menuju segala kemungkinan konteks dalam membangun makna terkini dari suatu teks[1], yang akhirnya hermenautika diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti. Batasan umum ini selalu dianggap benar , baik hermenautika dalam pandangan klasik maupun dalam pandangan moderen.[2] Sedangakan strukturalisme sering kali dilihat secara positivistic, mengafkirkan asumsi-asumsi epistimologis hermenautika dan menjaraki teks dari berbagai perhatian subjektif suatu kritik

B Rumusan masalah

Dalam penulisan makalah ini untuk mengkaji lebih mendalam mengenai teori hermeneutika nashr hamid abu zaid sebagai mana disinggung dalam latar belakang masalah penulis akan menformulasikan beberapa rumusan masalah dalam penulisan makalah ini sebagai berikut:

1. Bagaimana biografi intelektual Nasr hamid abu zaid

2. Bagai mana teori hermeneutika Nasr hamid abu zaid

3. Apa saja karya–karya nasr hamid abu zaid

C Tujuan makalah

Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah terdiri dari : tujuan khusus dan umum;

Tujuan khusus;

1. Dapat menginformasikan kepada para pembaca tentang biografi intelektual Nasr hamid abu zaid

2. Dapat memahamkan pada para pembaca bagai mana teori hermeneutika Nasr hamid abu zaid

3. Dapat memberitahukan kepada para pembaca tentang karya–karya nasr hamid abu zaid

dan tujuan umum ;

1. Makalah ini di harapkan menjadi masukan dan tambahan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa STAIN Pamekasan

2. Makalah ini di harapkan menjadi masukan dan tambahan ilmu pengetahuan kepada generasi penerus bangsa ini.

BAB II

PEMBAHASAN


A Biografi intelektual Nasr hamid abu zaid

Nasr hamid abu zaid dilahirkan di desa Qahafah , tanta , mesir pada tanggal 19 juli tahun 1943 .[3] menurut hilman latief dalam bukunya nasr hamid abu zaid kritik nteks keagamaan dia lahir pada tanggal 10 juli.[4] dari kecil dia dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang sangat religius . dia termasuk anak yang beruntung karna dia melewati masa kanak- kanak dan dewasa dinegeri mesir diamana disana adalah alam kebebasan berpikir dan termasuk pusat sumber khazanah keislaman. sehingga kondisi ini secara dinamis berpengaruh pada pertumbuhan intelektualitasnya . ketika dalam usia delapan tahun nasr hamid abu zaid sudah menghafal kitab suci Al-qur’an 30 jus diluar pendidikan formalnya .[5]

Nasr hamid abu zaid menempuh pendidikan madrasah ibtidaiyah dikampung halamannya pada tahun 1951, dia kemudian melanjudkan pendidikannya disekolah tehnologi didistrik kafru zayyad, propinsi gharbiyah dia masuk disekolah ini untuk memenuhi keinginan ayahnya untuk sekolah dikejuruan meskipun dia sangat ingin sekali melanjutkan stadinya di al-azhar. pada tahun 1968 nasr hamid abu zaid kemudian melanjudkan studi kefakultas adab di universitas kairo dan dia tamat pada tahun 1972 dengan nilai cum laude (memuaskan )dan dia melanjudkan S2nya di universiotas kairo juga dan dia menyelesaikan tesisnya dengan judul qadhiyat almajaz fi al-qu’an inda mu’tazilah dan berhasil dengan nilai yang memuaskan juga pada tahun 1976. kemudian pada tahun 1981dia meraih gelar doctor dari universitas kairo dengan risalah desertasinya yang berjudul ta’wilu al-qur’an inda muhyiddi al arabi dan mendapat nilai yang sangat memuaskan juga serta mendapat penghargaan tingkat pertama .dari hasil intelektualnya ini ahirnya dia memutuskan untuk mengabdi dialmamaternya dan menjadi asisten dosen dan kemudian menjadi dosen dalam bidang adab dan filsafat , sebelum ahirnya hijrah dan menetap di belanda menjadi guru besar islamic studies pada leiden university sampai sekarang. dan dia mulai dikenal luas dikalangan akdemisi mulai sepuluh tahun terahir ini.

Ada beberapa aspek yang bisa dilihat dari sketsa biografi dan intelektual Nasr abu zaid , pertama , karir akademis di Universitas Kairo ; Kedua aplikasi sosial politik dari pemikirannya; Ketiga koreksi dan tuduhan ulama Mesir seta pembelaan Nars abu Zaid sendiri . dan aspek yang ke empat adalah pembacaan terhadap tradisi keagamaan. Untuk yang terakhir ini berkaitan dengan asumsi dan persepsinya tentang tradisi Islam dan pada ujung-ujungnya persepsi tersebut berpengaruh terhadaf persepektif yang digunakan untuk mengkaji al- Qur’an.

B Teori hermeneutika Nasr hamid abu zaid

Menurut nasr hamid abu zaid pada hakekatnya alqur’an adalah produk dari peradaban teks, dalam karyanya mafhumun nash dengan pendekatan semiotika dan hermeneutika , dia menilai bahwa produk kultural atau biasa disebut almuntaj asstaqafi dalam istilah arab, al-qur’an sebanding dengan hasil peradaban manusia yang dapat berubah dan ditafsiri sekontektual mungkin sejalan dengan arus perkembngan zaman , karena al-quran ketika diwahyukan dalam konteks masyarakat arab jahiliyah kala itu menurutnya (zaid ). maka tafsir dalam rangka menghidupkan kembali nilai- nilai al-qur’an, sehingga ummat islam sekarang harus mentafsirkan dan merekontruksi ulang gagasan kitab suci itu secara cerdas dan sesuai dengan semangat zaman kini.

Al-qur’an diturunkan tidak lepas dari kondisi sosio cultural masyarakat arab kala itu, sehingga memperlakukannya (alqur-an ) pada saat ini tidak seperti pada masa lalu .dia menyayangkan karena ada beberapa kalangan ulama’ yang dia sitir sebagai sedemikian rupa telah membakukan sedemikian rupa nash al-qur’an ,sehingga misi ajarannya kurang mengena dan mengikuti semangat zaman. Dan ada pula ulama’ (kata zaid ) yang telah mendikotommikan al-quran dengan realitas sosial, sehingga ketika ummat islam berhadapan dengan nash seakan –akan ada tembok pemisah antara teks yang sacral disatu sisi dan ummat islam itu sendiri sebagai objek, sehingga untuk mengahiri problem ini dia menawarkan gagsan ummat islam harus mampu dan berani menafsirkan islam (al-qur’an dan sunnah)secara cerdasdengan mempertimbangkan aspek sosial zamannya bukan pada metode kalasik yang hanya memfokuskan pada asapek sosio cultural ketika al-qur’an diturunkan .karena sebenarnya kemunduran manusia Islam sekarang antara lain disebabkan oleh pemahaman manusia terhadap al-qur’an yang terlalu tekstual.

Manusia sering diidentifikasi sebagai animal Syimbolicum dalam arti perbedaan asasi manusia dengan hewan terletak pada pemakaian dan pemahaman mausia terhadap simbul-simbul dalam kehidupannya. Dan hamper setiap bidang kehidupannya , mausia tidak lepas darinya dari pemakaiai simbul-simbul, baik yang bersifat verbal, fisikal maupun yang berbentuk peristiwa atau realitas tertentu. Akibatnya , dalam berbagai aspek kehidupannya manusia dituntut untuk bisa memahami dam menafsirkan simbul-simbul. Membahas mengenai simbul dan pemahamannya pada dasarnya membicarakan mengenai pemaknaan dan cara mengungkap makna, yang akhirnya lahir beragam teori dan metode pemahaman yang merupakan titik tolak perkembangan peradaban ilmiyah manusia. Dan diantara salah satu teori dan metode untuk menyingkap makna pada dasarnya adalah hermanutika.

1. Pengertia hermaneutik

Secara etimologis kata hermanautika berasal dari bahasa yunani hermaneuin yang berarti “menafsirkan”[6] dan dari kata hermanuin dapat ditarik kata benda hermenea yang berarti “Penapsiran” atau interpretasi [7] Dalam pengartian yang lain hermanutic adalah sebuah kata benda , dimana dalam kata ini mengandung tiga arti diantaranya:

1) Ilmu penafsiran

2) Ilmu untuk mengetahui maksud yang terkandung dalam kata-kata dan ungkapan penulis

3) Penafsiran yang secara khusus menunjuk kepada penafsiran kitab suci.

Oleh karena itu , hermaneutik pada akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau sesuatu ketidak tahuan menjadi mengerti [8] dan problema dasar yang di teliti hermaneutika adalah masalah penafsiran teks secara umum, baik berupa teks histories maupun teks keagamaan.[9]

2. Teori Nasr Abu Zaid

Teori Nasr Abu Zaid saat beliau mengembangkan tentang tingkatan- tingktan konteks, yaitu terdiri dari tiga teori :

a. Teori kontek sosio cultural

b. teori kontek narasi

c. teori kontek pembacaan

Penjelasan Teori Nasr Abu Zaid

1. Teori kontek sosio cultural

Teori kontek sosio cultural telaah nasr abu zaid terhadap konteks disini terbatas kepada teks yang bersifat kebahasaan maksudnya kedukan teks bahasa secara umum karena apabila dispefikasi tentunya banyak sekali macam dan ragam jenis teks seperti syair ,cerita dan sebagainya ,pun dengan teks keagamaan yang memiliki karakter sebagai teks kemanusiaan dan keduniaan serta bersifat sosiokultural kebahasaan .menurutnya apa yang disampaikan nabi Muhammad Saw. Adalah berupa teks yang berupa bahasa arab ,sehingga telaah yang diarahkan terhadap tingkatan konteks secara umum terhadapteks kebahasaan bertujuan untuk mengungkap tingkatan konteks al-qur’an secara lebih spesifik . sedang yang dimaksuk kontek cultural pada teks-teks kebahasaan adalah setiap parkara yang melalui otoritas epistimologisnya memungkinkan terjjadinya interksi yang bersifat kebahasaan .bahasa merupakan kumpulan aksioma tradisi masyarakat yang mulai dari tingkatan akustik dan berahir pada tingkat signifikansi atau pemaknaan karena aksioma tersebut digunkan dalam kerangka kebudayaan yang lebih luas ,menurut nasr abu zaid ketika proses interksi berlangsung antara penutur dan penerima tidaklah cukup hanya mengetahui kaidah- kaidah bahasa untuk menjamin suksesnya proses interaksi , lebih dari itu antara keduanya mesti ada ksemacam kerangka berpikir yang menggambarkan bahwa masing-maing bisa saling memhami dan saling berehubungan . rujukan epistimologis yang dimaksud disinin adalah kebudayan dengan segala aspeknya termasuk kebiasaan dan tradisi- tradisinya , yang itu terelihat dalam bahasa dan aturan –aturannya .

2. Teori Kontek Narasi

Teori kontek narasi ialah berusaha menyingkap makna yang tersembunyi dalam suatu wacana .dan makna yang tersembunyi itu tidak sebagaimana yang di pahami para ulama’ fiqih dengan indikasi signifikan atau gramatika wacana tetapi diartikan oleh nasr hamid abuzaid sebagai lefel yang lebih luas yang menyingkap konteks yang berkaitan dengan beberapa factor ekstern berbarengan makna konteks narasi yang tersebutkan .

3. Teori Kontek Pembacaan.[10]

Teori Kontek Pembacaan Menurut nasr hamid abu zaid konteks pembacaan merupakan bagian dari keseluruhan system konteks ,dan merupakan bagian dari stuktur teks ,akantetapi pembacaan itusediri terbentuk sebagai stuktur tersendiri dari tingkatan pembacaan dan dia membaginya pada dua hal. (1) kondisi pembaca itu sendiri dan (2) beragamnya pembacaan ,yang muncul disebabkan perbedaan pada aspek pemikiran dan ediologi . tentunya interpretasi sangat tergantung dengan temporalitas sang pembaca atau penafsir .problem lain yang terdapat dalam konteks pembacaan ini adalah sang pembaca harus melakukan trasformasi wacana dari suatu fase peradaban tertentu kepada peradaban yang lain , juga melakukan sutu transformasi makna dari bahasa yang asli kepada bahasa lain.

Bagian dari teori Abu Nasr yang lain:

1. Pemahaman gramatikal terhadap beberapa bentuk karakter ekspresi dan bentuk liguestik dari kebudayaan dimana pengarang itu hidup

2. Pemahaman psikologis yang menelaah subjektifitas dan kecerdasasn sang pengarang itu sendidir.

C Karya –karya Nasr Hamid Abu Zaid

1. Mafhumun Nash

2. Dirasah Fi Ulum Al-Qur’an Falsafah Al- Ta’wil Inda Muhyiddin Ibnu Arabi

3. Naqd Al-Khitab Al-Dini

4. Al Imam Al-Safii Wata’sis Alideolojia Al-Washatiyyah

5. Al-Ittijah Alaqli Fitafsir

6. Qadhaya Fiqadhiyyat Al-Majaz Fi Al-Qur’an Inda Mu’tazilah

7. Naqd al- Khitab al dini ( karya yang menyulut kontra versi )

8. Al Imam al Syafii wa ta’sis al Aidiulujiyyah al wasatiyah ( karya yang menyulut kontra versi )

Dari beberapa karya – karya nasr hamid abu zaid sudah ada beberapa yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya

D Analisis kritis

Perkembangan studi metodologi tafsir al- Qur’an yang pesat sebenarnya pada masa saat ini akan tumbuh karya tafsir dan metodologi tafsir dengan cirri khas, cita rasa model analisis dan perspektif yang cukup beragam dengan nuansanya sendiri- sendiri. Namun hingga kini gaya penulisan dan komentar al-Qur’an hamper tidak mengalami perubahan yang substansial, dengan tuntutan teoritiknya agar memiliki relevansi dengan kontek kekinian. Setidaknya didalam menafsirkan al-Qur’an berpeganng teguh pada tiga prinsip intetrelasi; Pertama; Interpretasi al-Qur’an dengan sudut pandang “ ilmiyah Rasinal” . Paling dekat dengan perspektif ini adalah interpretasi al-Qur’an dengan al-Qur’an yang sering digunakan sebagai pengapkiran terhadap seluruh keterkaitan secara material sebuah tradisi dalam bentuk laporan-laporan hadis dan komentar- komentar paling awal; Kedua; Selanjutnya menjaga kelayakan suatu interpretasi agar al- qur’an terbebas dari legenda-legenda bawaan, pikiran-pikieran primitive, cerita-cerita yang tidak masuyk akal, cerita fiktif dan tahyyul, Rasionalisasi doktrin, seperti tentang teori penciptaan yang dipaparkan dan dijustifikasikan dengan cara merujuk al-Qur’an.

Kontek interelasi diatas umumnya dapat ditemukan dalam komentar-komentar moderen yang mencoba memperhatikan kandungan spiritual al-Qur’an serta petunjuk-petunjuknya. Pendekatan- pendekatan ini digunakan umpamanya oleh beberapa modernis.Dan pendekatan yang dilakukan oleh para modernes Muslim, termasuk didalamnya pendekatan yang dilakukan oleh nasr Abu Zaid dalam memahami al-Qur’an.

Hermeneutik dalam studi ini adalah mencoba berbicara pada tingkatan “ memahami “ dalam padanan translation, exegesis, commentary maupun interpretation di suatu sisi, juga dalam lingkup yang lebih luas, yakni mendivinisikan haskekat tek di sisi lain. Walaupun tidak ada perbedan secara etimologis antara herminautika dan pebnafsiran , tetapi dalam perjalanan sejarah keduanya dibedakan dalam tatanan teologis. Hermenautika menunjuk padsa tujuan , prinsip, dan treteria dari praktek. Dengan kata lain , hermenautik adalah seni interpretasi. Ia dapat berfungsi sebagai teori interprtasi, kajian filosofis, dan dapat pula berposisi sebagai kritik. Sedangkan penafsiran biasanya di sejajarkan dengan praktek penafsiran belaka.

BAB III

PENUTUP

A Kesimpulan

Dari beberapa urain diatas maka pemakalah menyimpulkan bahwa didalam studi hermaneutika Nasr Hamid Abu Zaid ini mencoba berbicara pada tinggkat pemahaman dalam padanan transilation exegesis, comentari maupun interpretation di suatu sisi , juga ruaglingkupnya yang lebih luas yaitu pendifinisian tentang hakekat teks di sisi lain. Secara etimologis hermaneutika menunjuk kepada tujuan, prinsip dan kreteria dari praktek tersebut, dengan ucapan lain hermaneutika adalah seni interpretasi yang dapat berfungsi sebagai teori interpretasi , kajian filosofis dan berposisi sebagai kritik

B Saran

Dalam penulisan makalah ini tentu sangat jauh dari kesempurnaan dan masih banyak yang harus diperbaiki dan lebih disempurnakan sehingga kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari rekan –rekan sekalian .

DAFTAR PUSTAKA

1. Hilman latief , nasr hamid abu zaid kritik teks keagamaan (el saq press cet I yogya karta appril 2003 )

2. E. Sumaryono, Hermenautik sebuah Metode filsafat, ( Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1999 )

3. Hery sucipto, ensiklopedi tokoh islam dari abu bakr hingga nasr dan qardhawi.(PT mizan publika cet. I,Jakarta , oktober 2003 )

4. Fahruddin Faiz Hermaneutika qur’ani antara teks, Konteks, dan kontektualisasi.cet IV(Yogyakarta, Qalam, 2007)

5. Nashr hamid Abiu Zaid, Hermeneutika Inklusif Mengatasi Problema bacaan dan cara-cara pentakwilan atas diskursus keagamaan,( Jakarta, pt ilkis Pelagi Aksara,2004 )



[1] Hilman latief , nasr hamid abu zaid kritik teks keagamaan (el saq press cet I yogya karta appril 2003 ) halm.5

[2] E. Sumaryono, Hermenautik sebuah Metode filsafat, ( Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1999 ) 24

[3] Hery sucipto, ensiklopedi tokoh islam dari abu bakr hingga nasr dan qardhawi.(PT mizan publika cet. I,Jakarta , oktober 2003 )halm. 348

[4] Ibid, Hilman latief , halm. 38

[5] Ibid hery sucipto, halm. 348-349

[6] Ibid, Hilman latief , halm. 71

[7] Fahruddin Faiz Hermaneutika qur’ani antara teks, Konteks, dan kontektualisasi.cet IV(Yogyakarta, Qalam, 2007) 18

[8] Ibid, Hilman latief , halm. 72

[9] Nashr hamid Abiu Zaid, Hermeneutika Inklusif Mengatasi Problema bacaan dan cara-cara pentakwilan atas diskursus keagamaan,( Jakarta, pt ilkis Pelagi Aksara,2004 )hal. 3

[10] Ibid, Hilman latief , halm. 31

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar