Selasa, 29 September 2009

PERAN MILITER DALAM PERPOLITIKAN DI INDONESIA





PERAN MILITER

DALAM PERPOLITIKAN DI INDONESIA

Judul Artikel

MILITER DALAM POLITIK KARTEL DEMOKRASI

I. Alasan Memilih Artikel.

Kerjasama militer untuk mengatur kepentingan bersama dalam dunia politik pada era demokrasi saat ini yang sedang berlangsung di negeri kita Indonesia ini, sebenarnya digunakan untuk kepentingan bersama menuju cita-cita bangsa dan negara atau kepentingan nasional, namun kenyataan yang ada para jendral yang bermain di arena politik yang ada, banyak menggunakan berbagai macam metode dan keahlian militer untuk memperjuangkan ambisi politik pada setiap kubu atau kelompok kepentingan politik tertentu. Hal ini di diperkuat oleh adanya elit militer condong mendorong pemikirannya pada sentra kekuasaan ketimbang mengembangkan institusi politik yang kuat, bersih dan efesien.[1] serta profesional sehingga bisa mengembangkan negara menjadi negara yang modern.

Selain dari beberapa masalah tersebut di sisis lain, tahapan reformasi yang sudah berjalan + 11 tahun berjalan, masih saja terus mencari bentuk idealnya dan belum bisa mengakomodasi kepentingan nasional secra lebih luas. Kita kembali memasuki lingkaran setan korupsi, kolusi dan nepotisme memenuhi birahi individu dan institusi politik tertentu. Sebenarnya hal ini merupakan gerakan yang kurang profesional karena banyak digunakan untuk kepentingan kelompok bukan untuk kepentingan nasional, sehingga banyak menimbulkan carut-marut dalam menegakkan hukum dan keadilan, serta banyaknya kasus yang memalukan dan seharusnya minimal dampak yang ditimbulkan demi tujuan tercapainya Indonesia yang lebih demokratis dab profesional.

Sedihnya lagi, Indonesia ini Ibarat kue ulang tahun , ada yang kebagian ladang minyak, kayu gelondongan yang diselundupkan, dan kebagian monopoli sumber energi listrik dan sebagainya. Serta harkat kita sebagai rakyat dan bangsa yang dielukan sebagai pemimpin new emerging forces, yang dibagun oleh pera pendiri republik ini, lenyap ditelan oleh penghambat rendahnya kreativitas dan berbagai persoalan kebangsaan lainnya. Dan tidak kalah pentingnya untuk dikertahui banyak sekali terdengar digunakannya perangkat dan fasilitas Intelijen oleh kelompok jendral yang berkuasa, untuk menghadapi lawan-lawan politik kelompok jenderal yang maju dalam pemilihan umum presiden. Taktik dan strategi intelijen digelar secara naksimal untuk mengantisi pasi lawan politik dari suatu kelompok. Sehingga pantas jika kita mengambil judul dalam artikel ini dengan judul Militer dalam politik Kartel Demokrasi.

II. Kerangka Teori Yang Relevan Dengan Tema Artikel.

Militer adalah sebuah organisasi yang paling sering melayani kepentingan umum tanpa menyertakan orang-orang yang menjadi sasaran usaha-usaha organisasi itu[2] Sehingga dengan demikian milityer hendaknya adalah merupakan suatu propesi suka rela karena setiap individu bebas memilih suatu pekerjaan didalamnya, termasuk didalammnya mengenai pemilihan presiden, namun ia juga bersifat memaksa karena para anggotanya tidak bebas untuk membentuk suatu perkumpulan suka rela melainkan terbatas kepada suatu situasi hirarki birokrasi.

Secara historis , atribut paling penting dari prajurit atau militer profesional adalah keberanian dan disiplin[3] Akan tetapi militer sebagai prajurit profesional zaman ini sekaligus harus dapat menjadi seorang birokrat dan seorang pahlawan, dan sebagai seorang profesional, militer atau prajurit harus bertanggung jawab kepada masyarakat dan kepada negara dalam arti militer harus mengutamakan kepentingan negara secara keseluruhan secara nasional, bukan mengedepankan kepentingan kelompok, atau kubu politik tertentu. Sedangakan militer dalam pengertian profesi ”jabatan”. Sebagai seorang birokrat ia bertanggung jawab kepada kekuasaan. Militer modern adalah korporasi (dalam hal eksklusivitas, birokratis( dalam hal hirarki) dan profesional (dalam hal semangat missi).

III. Peristiwa Yang Relevan

Banyak digunakannya perangkat dan fasilitas Intelijen oleh kelompok jendral yang berkuasa, untuk menghadapi lawan-lawan politik, serta banyaknya kelompok jenderal yang maju dalam pemilihan umum presiden. Banyaknya Taktik dan strategi intelijen digelar secara maksimal untuk mengantisi pasi lawan politik dari suatu kelompok, serta banyaknya jenderal yang bermain diarena politik dengan menggunakan berbagai metode dan keahlian meliter untuk memperjuangkan ambisi politik setiap kubu dan banyaknya partai politik yang punya jendral.



[1] Rene L Pattiradjawane,”militer dalam politik kartel demokrasi”kompas, (20, Mei, 2009), hlm.5.

[2] Peter Blau and Richard Scott, Formal Organization”, (SanFransisco, Chandler, 1962), hlm 54.

[3]Amos Perlmutter, Militer dan politik ,(Jakarta, Rajawali , 1984),Hlm., 3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar